Feature: Langkah Panjang Menuju Keindahan Gedong Songo

 

      

(Candi Gedong Songo)

     Udara dingin menerpa kulit dengan begitu tegas ketika langkah kaki menapak pertama kali di Candi Gedong Songo. Kabut menyelimuti dengan tebalnya tapi tidak menutupi eloknya pemandangan bukit-bukit yang menjulang tinggi. Matahari muncul dengan indahnya menyinari kokohnya gedong-gedong candi yang menjulang. Panasnya matahari tidak terasa sama sekali. Takluk dengan pohon, tanaman, dan bunga-bunga yang berdayun-dayun dengan seirama. Serta angin menerpa wajah dengan lembutnya.

     Perjalanan menuju lokasi wisata yang terletak di lereng Gunung Ungaran ini menjadi bagian yang tak kalah menarik. Selama perjalanan, jalanan berkelok dengan pemandangan hijau menyambut dengan syahdu. Seperti berbisik selamat datang di surge kabupaten Semarang. Udara yang sejuk, pemandangan hijau di kanan dan kiri membuat rasa lelah selama perjalanan perlahan terbayar. Udara segar dipagi hari, jalanan yang sepi, membuat perjalanan terasa semakin syahdu.

   Candi Gedong Songo memiliki keunikan yang membedakannya dari candi-candi lain pada umumnya. Jika kebanyakan candi berdiri sebagai satu kesatuan bangunan dalam satu area, kompleks Candi Gedong Songo justru terdiri atas beberapa kelompok candi yang letaknya terpisah satu sama lain. Mulai dari Gedong I hingga Gedong V, setiap candi memiliki jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalur yang menanjak.

        Kondisi inilah yang membuat pengunjung seolah diajak untuk “berpetualang” sekaligus mendaki hingga mencapai titik tertinggi di Gedong V. Perjalanan dari satu candi ke candi berikutnya tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga pengalaman menikmati keindahan alam di sepanjang jalur. Inilah yang menjadi daya tarik utama dari Candi Gedong Songo menggabungkan wisata sejarah dengan sensasi menjelajah alam pegunungan.

      Candi Gedong I menjadi titik awal penjelajahan di kawasan wisata ini. Candi Gedong I  adalah candi yang akan terlihat langsung saat memasuki  kompleks Candi Gedong Songo, karena terletak paling bawah. Saat melangkahkan kaki menuju gedong I, pengunjung akan disuguhi pemandangan alam kawasan Gedong Songo dari ketinggian bawah yang memanjakan mata. Di beberapa sudut, tampak jasa foto yang siap mengabadikan momen para wisatawan. Tidak jauh dari situ, terlihat pula sekelompok kuda yang disewakan bagi pengunjung yang ingin mencapai candi-candi di atas tanpa harus berjalan kaki.

     Candi Gedong I sendiri terdiri dari satu bangunan utama yang masih berdiri kokoh, meskipun beberapa bagian seperti stupa sudah mengalami kerusakan. Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi daya tariknya sebagai bagian dari peninggalan sejarah yang tetap memikat untuk dikunjungi. Di candi gedong I inilah terdapat penjual/penyewa kain yang bertuliskan “Gedong Songo”. Kerap terlihat orang-orang yang berfoto di depan Candi ini, meililitkan kain di pinggangnya.

    Saat melihat pemandangan di sekitar Candi Gedong I, pengunjung akan bisa melihat Candi Gedong V yang merupakan candi paling tinggi untuk ditempuh.  Disinilah rasa-rasa keidakmungkinan untuk mendaki sampai Gedong V sangatlah tidak mungkin, bagi sebagain pengunjung. Setelah, menikmati keindahan Gedong 1, beranjaklah untuk melanjutkan rute selanjutnya yaitu Gedong II.

     Perjalanan menuju Gedong II adalah perjalanan paling melelahkan. Jarak antara Gedong 1 dan Gedong II sangatlah jauh, dibandingkan dengan jarak antar candi berikutnya. Jalan yang sangat curam dan menanjak, membuat beberapa pengunjung harus mengambil nafas untuk beristirahat dan minum. Dengan keringat yang menguncur, nafas yang tersenggal-senggal, semakin meyakinkan pemikiran jika menuju Gedong II saja sudah terasa berat, apalagi untuk mencapai Gedong V yang tampak jauh di atas sana.

       Namun, sepanjang perjalanan menuju Gedong II, kelelahan itu sedikit terobati.  Deretan penjual makanan dan minuman, cindera mata, tampak berjajar di beberapa titik, menawarkan berbagai dagangan kepada para pengunjung.. Kamar mandi juga tersedia di perjalanan tersebut, sehingga pengunjung tidak perlu turun ke bawah hanya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Selain itu, perjalanan ini juga dihiasi oleh mata air pegunungan dari Gunung Ungaran yang terasa dingin dan menyegarkan. Bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalur, diiringi lebah-lebah yang beterbangan mengelilinginya, menciptakan suasana alam yang begitu hidup. Pemandangan tersebut seakan menjadi penghibur di tengah rasa lelah, memberi semangat bagi para pengunjung untuk terus melangkah menuju tujuan berikutnya.

      Perjalanan yang melelahkan ini terbayarkan dengan sampainya di Gedong II dan III. Jarak kedua gedong ini sangatlah dekat. Sehingga, memberikan sedikit kegembiraan bagi pengunjung. Hal yang unik dari Gedong II yaitu adanya dua bangunan candi utama yang menghadap ke arah barat. Di depan kedua candi induk ini, terdapat reruntuhan candi perwara. Kawasan gedong 2 terasa lebih sempit di bandingkan dengan gedong yang lain.

     Tidak jauh dari Gedong II, Gedong III berdiri dengan pesonanya sendiri. Kawasan ini terasa lebih lapang, dengan hamparan rumput hijau yang membentang di sekeliling candi. Di sini kita akan dihadapkan dengan tiga candi yang masih utuh dan stupa di atas candi yang sangat cantik. Di dalam candi terdapat sesajen berisi taburan bunga yang diletakkan dengan rapi sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual dan peninggalan leluhur.

        Udara sejuk yang terus berhembus membuat siapun betah berlama-lama di Gedong III. Beberapa pengunjung tampak beristirahat dengan keluarga, pasangan, maupun teman sambil mengabadikan momen tersebut. Dari titik ini, pemandangan alam semakin terbuka luas. Perbukitan hijau, langit yang kadang tertutup kabut tipis, serta semilir angin menciptakan suasana yang menenangkan. Rasa lelah yang sebelumnya begitu terasa kini seakan memudar, berganti dengan kekaguman terhadap keindahan alam yang tersaji.

       Meski perjalanan masih harus dilanjutkan menuju Gedong IV dan V, keberadaan Gedong II dan III menjadi semacam “tempat jeda” yang menyenangkan. Di sinilah para pengunjung bisa mengumpulkan kembali tenaga, sebelum kembali melangkah menaklukkan jalur berikutnya yang tak kalah menantang.

      Berjalan meninggalkan Gedong III dengan tubuh yang jauh lebih segar seakan membangkitkan semangat untuk menuntaskan perjalanan hingga akhir. Perjalanan menuju Gedong IV kita bertemu dengan kawasan lembah kawah belerang. Bau belerang membuat pengunjung mabuk kepayang. Asap putih yang terus mengepul dan bergerak mengikuti arah angin seolah menyambut setiap langkah yang mendekat. Sebagian pengunjung yang tidak tahan dengan bau yang dihasilkan segera bergerak cepat meninggalkan kawasan itu dengan menutup hidung.

      Di sebelah kawah belerang yang terus mengepul mengeluarkan asap putih. Samping lokasi tersebut, terdapat pemandian air panas Candi Gedong Songo. Pemandian yang menyediakan tempat berendam alami dengan kandungan belerang. Air panas dengan kandungan belerang ini iyakini berkhasiat untuk terapi kulit, meredakan gatal-gatal, mengurangi stres, dan meningkatkan kesehatan tubuh. Dengan harga tiket yang terjangkau yaitu sekitar lima sampai sepuluh ribu rupiah, membuat tidak sedikit pengunjung yang mampir untuk mencelupkan badan ke air tersebut.

Kawah Belerang, Candi Gedong Songo

       Dengan bekal aroma belerang yang menyengat. Dengan bekal aroma belerang yang masih menyengat di hidung, seolah menjadi penanda bahwa Gedong IV akan segera berada di depan mata. Langkah kaki yang sempat terasa berat kini kembali dipaksakan untuk terus bergerak, didorong oleh rasa penasaran dan semangat untuk mencapai tujuan.

       Tak lama kemudian, bangunan Candi Gedong IV mulai terlihat dari kejauhan. Berdiri kokoh di tengah hamparan alam pegunungan, candi ini tampak sederhana namun tetap memancarkan pesona yang khas. Berada di candi ini umumnya tidak afdal jika tidak beristirahat sejenak untuk menikmati keindahan perbukitan gunung ungaran dan menikmati semilir angin. Hamparan rumput yang luas semakin membuat tubuh ingin tidur di bawah pohon rindang.

       Di Gedong IV akan terlihat hamparan padang rumput hijau  luas, yang menjadi titik pemberhentian populer bagi pengunjung yang menyewa kuda untuk mengelilingi kompleks. Kuda-kuda tersebut dengan gagahnya, berdiri berjajar, siap membawa penumpang untuk diajak berkeliling menikmati keindahan kawasan. Bagi sebagian orang, menaiki kuda menjadi alternatif untuk melanjutkan perjalanan menuju Gedong V tanpa harus merasakan lelah yang lebih berat. Namun, tidak sedikit pula yang tetap memilih berjalan kaki, menjadikan setiap langkah sebagai bagian dari pengalaman yang ingin dirasakan sepenuhnya. Terdapat perbedaan jalur antara pengunjung yang berjalan kaki dan yang menaiki kuda. Pengunjung yang berjalan kaki akan melewati rangkaian candi secara berurutan, mulai dari Gedong I hingga Gedong IV. Sementara itu, pengunjung yang menaiki kuda biasanya akan diarahkan langsung menuju Gedong V terlebih dahulu sebelum kembali melewati jalur lainnya.

       Jarak antara Gedong IV dan V tidak terlalu jauh. Apabila diberi permisalan, maka dapat diwujudkan dalam bentuk jalan pertigaan. Jika mengambil jalur kanan, maka sampailah di Gedong IV, namun apabila memilih jalur kanan, maka sampailah di Gedong V.

       Setelah istirahat dengan cukup di hamparan samping Gedong IV, kita lanjutkan perjalanan menuju ke Gedong V. Rasanya pasti tidak menyangka bahwa kaki sudah menempuh jarak yang begitu jauh untuk sampai menuju ke puncak, candi terakhir di kawasan Candi Gedong Songo.   Langkah demi langkah kembali diayunkan. Namun, rasanya ada suatu hal yang menarik badan untuk menghadap ke belakang. Saat tubuh berbalik arah, sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Gedong V. Hamparan alam Gunung Ungaran yang hijau terbentang luas di hadapan mata.  Pemandangan itu membuat langkah terhenti. Tubuh seakan membeku, berdiri seperti patung, terpaku oleh keindahan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Perbukitan hijau yang berlapis, kabut tipis yang perlahan bergerak, serta angin yang berhembus lembut menghadirkan ketenangan yang begitu dalam. Di momen itu, perjalanan terasa berhenti sejenak. Bukan karena lelah, tetapi karena tak ingin melewatkan keindahan yang tersaji begitu saja. Mata seolah enggan berkedip, mencoba menyimpan setiap detail pemandangan ke dalam ingatan.

      Meskipun belum puas dengan apa yang sudah di lihat, perjalanan tetap harus dilanjutkan. Candi Gedong V sudah berada di depan mata. Candi yang memiliki satu candi induk yang masih utuh, dikelilingi oleh reruntuhan candi pewara (candi pendamping). Di candi ini, semua rasa lelah, ketidakmungkinan terbayarkan. Rasa bangga menyelimuti diri saat berhasil mendaki dengan berjalan kaki sampai di candi terakhir. Sebagai sebuah tanda bukti, bahwa Candi Gedong Songo sudah ditaklukan, para pengunjung mengabdikan foto di ponsel masing-masing.  Menjadi pengalaman dan kenangan nyata yang bisa diceritakan kepada orang tua, saudara, teman, bahkan anak cucu nantinya.

      Sampainya di Gedong V sekaligus menjadi tanda berakhirnya perjalanan yang sudah ditempuh. Setiap langkah, rasa lelah, hingga setiap keindahan yang tersaji di sepanjang perjalanan menjadi bagian dari pengalaman yang tak tergantikan. Candi Gedong Songo bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan ruang yang menghadirkan rasa syukur atas keindahan alam yang diciptakan Tuhan. Keindahan itu tidak hanya terlihat oleh mata, tetapi juga dirasakan oleh hati, menjadikan perjalanan ini lebih dari sekadar wisata, melainkan sebuah pengalaman yang penuh makna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswa UNNES Tetap Olahraga Meskipun Bulan Puasa

Peserta UTBK di UNNES Keluhkan Soal Cukup Sulit pada Hari Pertama

Mahasiswa UNNES Hadirkan "Sore Baca" sebagai Kegiatan Membaca dengan Suasana yang Berbeda